Senin, 12 Maret 2012

pengawasan


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat taufik dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini , shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rosulullah SAW .juga kepada keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang mengikuti jejaknya.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah.
Saya mengucapakan terimah kasih kepada Bapak Januardi,S.Pd sebagai dosen  pengasuh mata kuliah Controllership / Pengawasan yang telah berkenan sumbangsinya dalam pelaksanaan pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan . Maka dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk pembuatan laporan yang lebih di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi saya penulis dan umumnya bagi para pembaca.
                                                                                                                          Palembang,  Maret 2012
             Penulis

        Kelompok  6












DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................................
A.    Latar Belakang..........................................................................................................    3
B.    Ruang Lingkup Pembahasan.....................................................................................    3
C.    Tujuan Pembuatan Makalah.....................................................................................    3

BAB 2  PEMBAHASAN
A.Beberapa alat perencanaan dan pengendalian finansial
a.      Arti Penting Perencanaan Keuangan........................................................................    4
b.     Bentuk Perencanaan Keuangan…………………………………………………….    5
c.      Alat  perencanaan dan pengadaan financial.............................................................           9

BAB 3 KESIMPULAN
a.      Kesimpuilan………………………………………………………………………..   11
b.     Daftar Pustaka……………………………………………………………………...  12













BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar belakang
Perencanaan dan pengendalian keuangan meibatkan proyeksi-proyeksi berdasarkan standar dan perkembangan dari umpan balik dan proses penyesuaian untuk memperbaiki prestasi kerja. Perencanaan keuangan mencakup penjualan, laba, dan aktiva yang didasarkan pada alternatif strategi produksi dan pemasaran untuk kemudian bagaimana menentukan kebutuhan pendanaannya.
Perencanaan Keuangan adalah proses dari :
1.     Menganalisis pendanaan dan pilihan investasi yang terbuka bagi perusahaan.
2.     Memproyeksikan konsekuensi masa yang akan datang akibat keputusan saat ini, guna menghidari hal-hal yang tidak terduga dan hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang akan datang.
3.     Menentukan alternatif mana yang akan dipilih
4.     Mengukur hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam rencana keuangan.


B.    Ruang lingkup pembahasan
Ruang lingkup pembahasan makalah ini adalah berkaitan dengan masalah alat yang digunanakan dalam perencanaan dan pengendalian finansial

C.    Tujuan pembuatan makalah
Tujuan Pembuatan makalah ini adalah untuk membahas, memahami, mengetahui arti penting perencanaan financial dan alat perencanaan pengendalian finansial



BAB II
BEBERAPA ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN FINANSIAL

A.       Arti Penting Perencanaan Keuangan

Perencanaan merupakan tindakan yang dibuat berdasarkan fakta dan asumsi mengenai gambaran kegiatan yang dilakukan pada waktu yang akan datang dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan adalah proses penyusunan tujuan-tujuan perusahaan dan pemilihan tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Supriyanto, 1994:4).
Perencanaan keuangan merupakan aspek penting dari operasi dan sumber penghasilan perusahaan karena memberikan petunjuk yang mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengontrol kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuan. Dua aspek penting dalam proses perencanaan keuangan : (1) Perencanaan uang tunai, meliputi persiapan dari penyusunan budget kas perusahaan. (2) Perencanaan laba, perencanaan laba perusahaan yang dibuat dalam bentuk laporan keuangan proforma. Kedua hal tersebut tidak hanya berguna bagi perencanaan keuangan intern tetapi juga dibutuhkan bagi pemberi pinjaman baik sekarang maupun yang akan datang.(Sundjaja dan Barlian, 2003:162)
Perencanaan laba berpusat pada pembuatan laporan proforma. Laporan proforma, merupakan proyeksi laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan rugi laba suatu perusahaan. Dua input yang diperlukan untuk menyusun laporan proforma dengan menggunakan pendekatan yang sederhana yaitu : a) laporan keuangan untuk tahun sebelumnya dan b) ramalan penjualan tahun yang akan datang.
Manajemen tidak hanya berurusan dengan operasi pada tahun berjalan. Operasi perusahaan pada tahun-tahun yang akan datang juga harus dipikirkan dengan seksama. Hal ini harus dilakukan karena kondisi lingkungan yang selalu berubah. Untuk itu, perusahaan memerlukan perencanaan jangka panjang yang diharapkan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi. Begitu juga dalam bidang keuangan, manajemen keuangan mempunyai tanggung jawab untuk membuat perencanaan keuangan jangka panjang.

Perencanaan keuangan berhubungan dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Kepala bagian finansial harus selalu mengadakan forecasting (peramalan dan pengiraan) terhadap masa yang akan datang tersebut dengan tepat, meliputi perencanaan finansial jangka panjang (long range financial planning) dan perencanaan-perencanaan jangka pendek (short range financial planning). Salah satu keuntungan yang diperoleh dari adanya perencanaan finansial adalah dihindarkannya pemborosan-pemborosan yang diakibatkan oleh adanya aktivitas yang sangat kompleks. (Gitosudarmo dan Basri, 1999:265)
Perusahaan-perusahaan yang dijalankan dengan baik umumnya mendasarkan rencana operasi mereka pada seperangkat ramalan laporan keuangan. Proses perencanaan dimulai dengan ramalan penjualan untuk masa lima tahun mendatang atau lebih. Aktiva dibutuhkan untuk memenuhi target penjualan itu ditentukan dan keputusan diambil dengan mempertimbangkan bagaimana aktiva yang dibutuhkan itu akan dibiayai.
1.     Bentuk Perencanaan Keuangan
Bentuk-bentuk rencana keuangan dapat secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut:
1.          Neraca
Neraca merupakan laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Menurut Fress dan Warren (1992:25), neraca adalah: “Suatu daftar aktiva, kewajiban dan modal pemilik perusahaan pada tanggal tertentu yang biasanya pada tanggal terahir suatu bulan atau tahun”.  Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kelender, sehingga neraca sering disebut balance sheet.
Pengertian-pengertian tersebut diatas menunjukkan bahwa posisi keuangan perusahaan yang dimaksud adalah keadaan asset (harta) yang dimililki perusahaan dan juga sumber-sumber dari mana asset diperoleh baik dari liabilities (hutang) dan owner’s equity (modal sendiri). Neraca (balance sheet) merupakan laporan keuangan yang menggambarkan besar kecilnya asset (harta), liabilities (hutang) dan modal perusahaan pada suatu saat tertentu yaitu pada saat neraca tersebut disusun yaitu pada waktu dimana buku-buku fiskal atau tahun kalender.



Kegunaan dari neraca menurut Kieso dan Weygandt (1995:252) adalah untuk:
1.     Perhitungan tingkat pengembalian.
2.     Pengevaluasian struktur modal perusahaan
3.     Penilaian likuiditas dan fleksibilitas dari keuangan tersebut. Artinya bahwa untuk mengadakan pertimbangan tertentu atas resiko perusahaan dan untuk menilai arus kas masa depan, seseorang harus menganalisa neraca dan menentukan likuiditas perusahaan dan fleksibilitas keuangan. Likuiditas menggambarkan jumlah waktu yang diperlukan untuk berlalu sampai dari suatu harta direalisasikan atau sebaliknya dikonversi menjadi uang kas dan sampai suatu hutang harus dibayarkan. Pada dasarnya fleksibilitas keuangan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk mengambil tindakan efektif guna mengubah jumlah dan waktu arus kas sehingga ia dapat tanggap terhadap kebutuhan dan peluang yang tidak terduga.

Dari pengertian neraca maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa neraca merupakan laporan jumlah harta dan kewajiban berdasarkan kejadian atau transaksi pada masa yang lalu. Pengukurannya dipengaruhi oleh kestabilan nilai rupiah dan hanya mengukur mengenai aktivitas perusahaan yang dapat dinilai dengan uang. Neraca keuangan merupakan komposisi dari jumlah aktiva dan pasiva yang dimiliki perusahaan pada sustu periode. Neraca memiliki beberapa manfaat seperti yang telah disebutkan di atas, neraca juga memiliki beberapa keterbatasan. Beberapa keterbatasan neraca menurut Smith dan Skousen (1993:151), adalah sebagai berikut:
a.   Para pemakai ekstern acap kali ingin mengetahui nilai perusahaan, pada dasarnya neraca tidak mencerminkan nilai berjalan dari suatu perusahaan, akan tetapi sumber daya dan kewajiban perusahaan disajikan dengan nilai historis berdasarkan transaksi dan kejadian dimasa lalu. Pengukuran biaya historis menunjukkan nialai pasar yang ada pada tanggal terjadinya transaksi dan kejadian-kejadian. Namun demikian, jika harta tertentu ternyata berubah dengan tajam setelah tanggal perolehannya, maka angka-angka neraca tidak relevan lagi untuk mengevaluasi nilai perusahaan.
b.   Suatu masalah yang berkaitan dengan neraca adalah kestabilan nilai rupiah sebagai satuan standar pengukur akuntansi. Karena adanya perubahan-perubahan harga umum dalam ekonomi, rupiah tidak menunjukkan suatu daya beli yang konstan. Pada hal nilai-nilai historis sumber daya dan kekayaan dinyatakan dalam neraca tidak disesuaikan dengan perubahan-perubahan daya beli satuan pengukuran. Hasilnya adalah suatu neraca yang mencerminkan harta, hutang dan kekayaan dalam satuan daya beli tyang berbeda-beda.
c.   Keterbatasan lainnya dari neraca juga berkaitan dengan kebutuhan pembanding, dimana perusahaan-perusahaan tidak mengklasifikasikan dan melaporkan pos-pos yang serupa secara sama. Sebagai contoh, nama dan klasifikasi perkiraaan bervariasi, beberapa perusahaan membuat lebih terperinci dari pada yang lain, dan beberapa perusahaan dengan transaksi yang benar-benar sama ternyata melaporkan secara berbeda-beda. Perbedaan tersebut mengakibatkan pembandingan sulit dilakukan dan mengurangi nilai potensial analisa neraca.
d.   Neraca juga dianggap memiliki beberapa kelemahan dalam bidang lainnya, terutama akibat masalah pengukuran beberapa sumber daya dan kewajiban tidak dilaporkan pada neraca.

Dari pengertian di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa neraca merupakan laporan jumlah harta dan kewajiban berdasarkan kejadian atau transaksi pada masa yang lalu, pengukurannya dipengaruhi oleh kestabilan nilai rupiah dan hanya mengukur mengenai aktivitas perusahaan yang dapat dinilai dengan uang.

2.     Laporan Laba Rugi
Laporan rugi laba merupakan suatu laporan sistematis tentang pendapatan/ hasil usaha, beban, laba perusahaan atau rugi yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Menurut Keiso dan Waygandt (1995:177), perhitungan laba rugi adalah: “Laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode waktu tertentu.” Pentingnya perhitungan laba rugi karena beberapa alasan, alasan utamanya adalah bahwa laporan yang membantu mereka dalam meramalkan jumlah, waktu dan ketidak pastian dari arus kas masa depan. Ramalan yang akurat akan arus kas masa depan membantu investor untuk menilai ekonomi perusahaan dan kreditur sehingga dapat menentukan profitabilitas dari pembayaran kembali sahamnya terhadap perusahaan.
Perhitungan laba rugi membantu pemakai laporan keuangan untuk meramalkan arus kas masa depan dalam beberapa cara yang berbeda (Keiso dan Waygandt, 1995:179)
a.      Investor dan kreditor dapat menggunakan informasi pada perhitungan laba rugi untuk mengevaluasi prestasi masa lalu perusahaan. Keberhasilan pada masa yang akan datang kecenderungan penting dapat ditentukan. Artinya jika suatu korelasi antara prestsi masa lalu dan masa depan dapat diasumsikan, maka prediksi atas arus kas masa depan dapat dibuat dengan kenyakinan tertentu.
b.     Perhitungan laba rugi membantu pemakai menentukan resiko (tingkat ketidakpastian) dari tidak mencapai arus kas tertentu. Informasi mengenai berbagai komponen laba pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian menyoroti hubungan di antara berbagai komponen ini. Komponen ini memungkinkan seseorang, misalnya untuk menilai secara lebih baik perubahan dalam permintaan akan produk suatu perusahaan terhadap penetapan beban.

2.     Peramalan Penjualan
Peramalan penjualan sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan khususnya di bidang produksi. Selain itu perusahaan dapat mengetahui aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan dikemudian hari seperti perencanaan dan penjadwalan produksi dengan mempertimbangkan kapasitas pabrik atau perencanaan tenaga kerja. Peramalan penjualan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang melalui pengujian keadaan di masa lalu.
Peramalan (forecasting) penjualan merupakan alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien khususnya dalam bidang ekonomi. Peramalan mempunyai peranan langsung pada peristiwa eksternal yang pada umumnya berada diluar kendali manajemen” (Yamit, 2000:36).
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa peramalan merupakan suatu metode yang digunakan untuk membuat suatu perkiranaan yang akan terjadi pada masa yang akan datang dalam rangka untuk mewujudkan tingkat efektivitas dan efisiensi sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Pada dasarnya peramalan penjualan dapat dibedakan menjadi dua yaitu: peramalan subyektif, yaitu peramalan yang didasarkan atas perasaan  orang yang menyusunnya. Dalam hal ini pandangan orang yang menyusunnya sangat menentukan baik tidaknya hasil ramalan tersebut. Kedua yaitu peramalan yang obyektif , yaitu peramalan yang didasarkan atas data yang relevan pada masa lalu dengan menggunakan metode-metode dalam penganalisaan tersebut.
Menurut Yamit (2000:37): “Metode peramalan permintaan atau penjualan dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif”. Metode kuantitatif dibagi ke dalam deret berkala atau runtun waktu (time series) dan metode kausal, sedangkan metode kualitatif dibagi menjadi metode eksploratoris dan normatif.
Metode kuantitatif sangat beragam dan setiap teknik memiliki sifat, ketepatan dan biaya tertentu yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode tersebut. Metode kuantitatif formal didasarkan atas prinsip-prinsip statistik yang memiliki tingkat ketepatan yang tinggi atau dapat meminimumkan kesalahan (error), lebih sistematis, dan lebih populer dalam penggunaannya. Untuk menggunakan metode kuantitatif terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi yaitu meliputi:
1.         Tersedia informasi tentang masa lalu.
2.         Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik.
3.         Diasumsikan bahwa beberapa pola masa lalu akan terus berlanjut.


B.      Alat  perencanaan dan pengadaan financial

Ada tiga jenis pusat pertanggungjawaban ini. Pertama, pusat pertanggungjawaban dapat merupakan suatu “pusat biaya”, jika pengawas hanya diharuskan bertanggungjawab terhadap biaya belaka, yaitu terhadap ongkos-ongkos dari departemennya sendiri atau terhadap biaya bahan baku atau upah tenaglangsung yang terjadi. Kedua, pusat pertanggung jawaban dapat diperluas menjadi suatu “pusat laba”, jika pengawas diharuskan bertanggungjawab untuk mencapai suatu kontribusi laba yang ditetapkan. Dan yang terakhir, jika sseorang manajer diharuskan bertanggungjawab tidak hanya untuk laba tetapi juga terhadap investasi yang diperlukan untuk menghasilkan margin atau laba, maka pusat pertanggungjawaban tersebut merupakan suatu “pusat Investasi”.

a.     Perilaku Biaya

            Yang agak mendasar bagi seluruh proses perencanaan dan pengendalian, atau kadang-kadang disebut “perencanaan laba”, atau juga manajemen menurut sasaran, adalah suatu pemahaman yang jelas mengenai bagaimanakah biaya-biaya, khususnya biaya overhead pabrikase, atau ongkos-ongkos lain akan berubah jika dihubungkan dengan volume usaha. Prinsip – prinsip ini sering dipahami dalam mengetrapkan akuntansi pertanggungjawaban sebagaimana yang baru saja dibicarakan.



b.    Laporan atas penyimpangan
           
            Fungsi controllership dapat dikatakan efektif sejauh bila dapat mengidentifikasikan pelaksanaan operasi manajemen yang menyimpang dari suatu sasaran yang dapat diterima – apakah berupa rencana, atau norma, atau pelaksanaan di masa lalu. Dan ditinjau dari segi pengendalian akuntansi, munghkin tidak lagi yang sia-sia dari pada laporan yang memuat sangat banyak perincian dan oleh karena itu, sama sekali tidak akan dipergunakan. Industrialisasi merupakan proses menjadi industri denganmempercepat hasil produksi dalam segala segi kehidupan. Sehinggadengan adanya industri, yang cepat menimbulkan sesuatu yang hilangatau bergeser, yaitu norma-norma dalam masyarakat.Industrialisasi merupakan usaha pemerintah untuk pemenuhankebutuhan. Industri adalah pembangunan ekonomi melaluitransformasi sumber daya atau kuantitas energi yang digunakan.Pada dasarnya manusia secara hakiki bersifat industrial, karenamanusia senantiasa menggunakan berbagai alat untuk memenuhikebutuhannya. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yangmembuat alat atau yang disebut juga dengan manusia juga merupakanmakhluk yang membagi alat atau yang disebut juga dengan manusiakerja (homofaber). Oleh karena itu, industri senantiasa dilakukanmanusia untuk mempertahankan hidupnya dengan bantuan alat-alattersebut. Industrialisasi memberi input kepada masyarakat, sehinggamembentuk sikap dan tingkah laku yang bercermin dalam bekerja.Proses industrialisasi ini sebenarnya merupakan suatu jalurkegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam arti, rakyattingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu.Dengan kata lain, pembangunan industri ini merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok ke sejahteraan rakyat bukan merupa kan kegiatanyang mandiri untuk mencapai fisik saja.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perencanaan keuangan merupakan aspek penting dari operasi dan sumber penghasilan perusahaan karena memberikan petunjuk yang mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengontrol kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuan.
Fungsi controllership dapat dikatakan efektif sejauh bila dapat mengidentifikasikan pelaksanaan operasi manajemen yang menyimpang dari suatu sasaran yang dapat diterima – apakah berupa rencana, atau norma, atau pelaksanaan di masa lalu.
























B.    Daftar Pustaka











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar